Perpustakaan MAN 1 Boyolali

Jl. Kates, Koplak, Siswodipuran, Kec. Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57316

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Cerpen LBB 2025 (2) : Pesan Mesin Waktu


Pesan Mesin Waktu 

Karya : Najwa Keyla Hanin 

“Tin! Tin!” 

Suara klakson mobil terdengar bersahut-sahutan di jalanan Jakarta yang sedang macet, seolah menjadi irama khas ibukota di jam sibuk. Di sekelilingnya, Gedung-gedung tinggi berdiri menjulang tinggi, lampu lampu jalan mulai dinyalakan, mengiringi suasana senja yang perlahan berubah menjadi malam yang gelap. kerumunan manusia memenuhi jalanan Jakarta, Sebagian tergesa-gesa pulang setelah melewati hari yang cukup melelahkan, sementara sebagian lainnya memilih menghabiskan waktu sejenak untuk berkumpul dengan teman, atau sekedar menikmati jajanan di pinggir jalan sebelum kembali ke rumah masing masing. 

Mahesa, seorang siswa kelas 3 SMA melangkahkan kakinya menyusuri trotoar dengan langkah lelah seusai pulang sekolah. Seragamnya tampak kusut, dan tas ransel berwarna merah yang menggantung di pungggungnya bergoyang mengikuti gerak kakinya. Sorot matanya menatap sekeliling jalanan, ada seorang anak kecil tanpa alas kaki yang sedang menawarkan dagangannya dan ada juga pria paruh baya dengan kantong berisi sampah-sampah jalanan. 

“Sebenernya untuk apa kita bekerja terlalu keras di hidup ini? toh kita semua juga bakalan mati” bisiknya lirih, sementara langkahnya semakin cepat seakan-akan ia ingin segera sampai di rumah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08:30 malam ketika Mahesa akhirnya menutup buku pelajarannya. Tugas sekolahnya selesai, meski matanya terasa berat dan punggungnya pegal setelah seharian penuh beraktivitas. Ia bangkit dari kursi belajarnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Perutnya mulai berbunyi, dengan gerakan yang malas ia mengambil telur yang berada di kulkas dan berniat menggoreng telur itu. 

“Biasanya selesai mengerjakan tugas Mahes langsung makan sama ayah ya bu, sekarang harus masak sendiri bahkan makan aja sendiri. Mahes kangen ibu sama ayah” gumannya seolah-olah ibunya mendengarkan di atas sana. 

Sudah 5 bulan ia tinggal sendiri semenjak ayah dan ibunya telah tiada, meski sudah ditawari berkali kali untuk tinggal bersama bibinya mahesa tetap menolak, ia lebih suka sendiri sekalian belajar dewasa katanya. Mahesa menatap ponselnya dengan tangan kiri sembari tangan kanan menyuapkan satu sendok nasi dan telur untuk masuk ke dalam mulutnya. 

Tiba-tiba ada pesan dari anonim yang bertuliskan “masa lalu atau masa depan” dengan wajah yang tampak kebingungan Mahesa membuka pesan itu dan mendapati pilihan masa lalu atau masa depan. Dengan santai dia memilih masa lalu. 

“Orang-orang iseng banget deh” ujarnya, kemudian ia melanjutkan aktivitas makan malamnya. 

Setelah selesai menikmati makan malam sederhananya, Mahesa mencuci piring dan alat masak yang telah ia gunakan. Lelah mulai terasa semakin berat di tubuhnya, seolah hari itu telah menarik seluruh tenaga yang ia miliki. Ia kemudian kembali menuju kamarnya yang berada tidak jauh dari dapur. Setelah menutup pintu dengan perlahan, Mahesa merebahkan dirinya di atas kasur. Tak butuh waktu lama hingga matanya terpejam, tenggelam dalam keheningan malam yang menyelimuti kamarnya. 

Perlahan, semburat cahaya matahari berhasil masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela, wajah Mahesa terpapar sinar matahari yang menyejukkan, membuatnya perlahan membuka mata dan menatap tirai jendela yang bernuansa abu-abu itu. Terdengar suara langkah kaki pelan yang semakin mendekat menuju kamar Mahesa.

 “klek” 

Suara pintu dibuka disusul seorang wanita paruh baya dengan rambut sepanjang pundak yang sebagian sudah mulai memutih masuk ke dalam kamar Mahesa, dengan tangan yang menyilang di dada wanita itu mengeluarkan sepatah kata “Bangun juga akhirnya anak ibu, cepet mandi habis itu sarapan”. Mahesa menatapnya lekat-lekat, matanya berkaca-kaca. 

Belum sempat ia megucap sepatah dua patah kata wanita itu sudah lebih dulu melangkah meninggalkan kamar Mahesa. Ia sangat kaget karena wanita yang baru saja ia lihat adalah ibunya yang sudah tiada. Sudah sekitar 2 menit Mahesa duduk mematung di atas kasurnya, meresapi apa yang baru saja ia lihat. 

“Aku ga salah lihat kan? tadi beneran ibu? apa aku cuman halusinasi?” beberapa pertanyaan mulai bermunculan di kepala Mahesa. Kaki kanannya menyentuh lantai, diikuti dengan kaki kiri, Mahesa melangkahkan kakinya keluar kamar dengan alis yang mengerut dan wajah yang tampak sangat kebingungan. 

Mahesa sangat bingung dan terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, Namun keterkejutannya belum berhenti sampai disitu. Mahesa tambah dikejutkan saat melihat pria dengan setelan jas rapi sedang menyeruput kopi di ruang makan. “Ayah!?” teriak Mahesa kaget. 

“Lihat ayah kaya lihat setan aja kamu. Ada apa? masih pagi sudah teriak teriak” jawab pria itu yang ternyata adalah ayah Mahesa. Mahesa tidak langsung menjawab. Napasnya tercekat. Dunia terasa berhenti sejenak, Matanya berkaca-kaca . 

Beberapa detik kemudian, ia berlari tanpa pikir panjang dan memeluk pria itu erat-erat, seolah takut sosok itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya. Ayah Mahesa terkejut, “Ada apa ini? tumben pagi-pagi sudah meluk Ayah” tanyanya kepada Mahesa. 

Mahesa menahan isak kecil di bahu ayahnya. Hangat, Benar-benar hangat. Bukan mimpi, Bukan bayangan. Sosok yang selama ini hanya ada dalam ingatannya, Kini ada di hadapannya. Ia tersadar wanita yang dilihatnya di kamar juga bukan sekedar halusinasinya saja, melainkan Ia yang berada di masa lalu. Mahesa sadar bahwa ia kembali ke masalalu karena pesan yang diterimanya tadi malam. Walau semuanya masih terasa seperti mimpi, perasaan bahagia pecah di dadanya, seolah dunia memberinya kesempatan kedua yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. 

Kini Mahesa sudah duduk di kursi penumpang mobil, sabuk pengaman terpasang rapi di dadanya. Ayahnya berada di belakang kemudi, bersiap bekerja sekalian mengantar anaknya ke sekolah seperti rutinitas pagi yang dulu terasa biasa saja, namun kini terasa begitu berharga bagi Mahesa. Mesin mobil menyala pelan, menyamarkan degup jantungnya yang masih diselimuti rasa haru dan tak percaya. 

Hari sudah berlalu. Kini malam telah datang, menyelimuti kota dengan udara dingin dan langit gelap tanpa banyak bintang. Namun dingin itu sama sekali tidak menyentuh Mahesa. Bukan karena selimut tebal atau penghangat ruangan, melainkan karena kehangatan lain yang tak tergantikan. Di ruang tamu yang sederhana, ia duduk bersama ayah dan ibunya, menikmati kebersamaan yang selama ini hanya bisa ia kenang. Tawa kecil, percakapan ringan, bahkan tidak ada keheningan di antara mereka. 

Tiba-tiba, pikiran Mahesa melayang entah ke mana. Di tengah kehangatan rumah dan suara tawa kecil yang memenuhi ruang tamu, gambaran lain muncul begitu jelas di pikirannya dia teringat seorang anak kecil yang kemarin ia lihat sedang berjualan di pinggir jalan, dan pria paruh baya yang sedang memulung sampah. Mahesa terdiam, senyumnya perlahan meredup. 

“Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?” “Apa mereka ada keluarga?” “Apa mereka juga kembali ke masa lalu?” “Di mana mereka tidur malam ini?” Pertanyaan-pertanyaan itu hadir begitu saja, membuat mahesa bergulat dengan pikirannya. 

Mahesa menatap kedua orang tuanya, ada gundah yang tiba-tiba menggugah dadanya, dorongan untuk mengungkapkan pertanyaan yang sejak lama menggantung di pikirannya. “Ayah, ibu, sebenernya untuk apa kita bekerja terlalu keras? Kan nanti kita semua bakalan mati” kalimat itu terlepas begitu saja dari mulut Mahesa, namun meninggalkan sunyi sesaat. 

Ayah dan ibu Mahesa saling pandang, Sejenak terkejut oleh kedalaman pertanyaan yang datang begitu tiba-tiba dari anak mereka. Ayah Mahesa tersenyum kecil, “Kita memang akan mati pada akhirnya” katanya pelan. “Tapi hidup bukan soal kapan kita selesai. Hidup itu soal apa yang kita lakukan selama diberi kesempatan” lanjut ayah Mahesa. 

Ibu Mahesa mengusap punggung tangan anaknya dengan lembut, matanya hangat penuh kasih. “Ibu dan ayah bekerja bukan cuma untuk hidup panjang, sayang” ujarnya lembut. “Tapi agar setiap hari yang kita jalani punya makna. Agar kita bisa mencintai, memberi, dan melakukan sesuatu yang baik. Untuk diri sendiri, dan untuk orang lain, seperti ayah dan ibu bekerja keras bukan cuman sekedar buat diri sendiri tapi juga buat kamu sayang ” ucap ibu Mahesa dengan penuh kasih sayang. 

Ayah Mahesa menambahkan “Kalau kita tidak berusaha, kalau kita tidak hidup sungguh-sungguh, itu baru namanya mati sebelum waktunya”. 

Mahesa menunduk perlahan, meresapi kata-kata itu. Dalam hati kecilnya, ia tahu jawaban itu bukan sekadar nasihat. Itu adalah kebenaran yang selama ini tak pernah sempat ia lihat. Ia merasa lega akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan yang akhir-akhir ini menggantung di pikirannya. 

Malam semakin larut, udara perlahan berubah semakin dingin. Di ruang tamu, satu per satu suara menguap terdengar, menandai bahwa kehangatan kebersamaan telah berubah menjadi rasa kantuk yang tak bisa ditahan. Akhirnya mereka berdiri dan bersiap menuju kamar masingmasing. Dengan langkah perlahan, Mahesa berjalan menuju kamarnya. Setibanya di atas kasur, ia menarik selimut dan membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kenyamanan. Matanya terpejam perlahan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur dengan hati yang benar-benar tenang. 

Pagi datang perlahan, membawa sinar lembut yang menembus tirai kamar. Mahesa membuka mata dengan perasaan hangat yang masih tertinggal dari malam sebelumnya. Untuk sesaat, hatinya terasa ringan dan tenang karena ia yakin begitu membuka pintu kamar, ia akan kembali melihat sosok ayah dan ibunya, seperti kemarin. Namun Mahesa salah, ia mencari ayah dan ibunya ke seluruh bagian rumah tapi mereka tidak ada. 

Akhirnya Mahesa tersadar bahwa ia sudah kembali ke masa depan. Dadanya naik turun, bukan karena panik, tapi karena menanggung rasa yang sulit dijelaskan. Sedih, iya. Tapi tidak sama seperti dulu. Kini ada sebuah kelegaan yang tulus. Ternyata ia memang hanya diberi satu hari untuk merasakan kembali hangatnya rumah, tawa kecil, dan kasih sayang yang tak tergantikan. Satu hari untuk memeluk rindunya yang selama ini terpendam. Dan walau pagi itu kembali sunyi, Mahesa tersenyum pelan. 

Rasa kehilangan itu masih ada, tetapi kini tidak lagi mengikis hatinya. Ia telah bertemu mereka. Ia telah mendengar suara mereka, merasakan pelukan mereka sekali lagi. Dan itu cukup. Dengan napas yang dalam, Mahesa menatap cahaya pagi dengan senyum lebar di luar jendela.

Keterangan :

Cerpen ini dinobatkan sebagai Karya Juara Kedua Lomba Literasi Bulan Bahasa 2025, yang diselenggarakan oleh MAN 1 Boyolali Tahun Ajaran 2025 - 2026

Perpustakaan MAN 1 Boyolali
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan MAN 1 Boyolali adalah perpustakaan sekolah, yang menerapkan konsep sistem layanan terbuka, sehingga memungkinkan pemustaka bebas mencari dan memilih sendiri judul dan jenis koleksi, sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka. Beralamat di Jl. Kates, Siswodipuran, Boyolali. Kode pos 57316. Nomor Telp. (Via What’s App) :088-238-448-023 (Pak Rifan) 083-844489-640 (Pak Khanif) Silakan berkunjung ke perpustakaan!

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?